Pindah Rumah

Hai teman-teman mantan penghuni Multiply, FYI, saya pindahan ke http://keluargahamsa.com. Silahkan mampir ya…

Tengkyu 🙂

Iklan

Menghitung Hari

Menghitung hari menuju Jakarta. Kurang lebih tiga minggu saja untuk bersiap. Ngerasa hari semakin cepat saja berganti. Apalagi di Surabaya masih ada beberapa tanggungan:

1. Ujian TOEFL tanggal 21 dan 26 April untuk persyaratan wisuda. Nggak tahu bisa lulus apa nggak, tapi udah kuputuskan lulus nggak lulus tetep kudu ke Jakarta. 
2. Revisi Tesis kudu diserahkan secepatnya ke dosen-dosen pembimbing untuk ditandatangani.
3. Nglepas kawat gigiku, karena kayaknya baru pulang ke Surabaya tahun depan setelah Maxy lahir. 
4. Menonaktifkan NPWP-ku. Pelaporan pajak bikin ribet aja untuk aku yang berstatus pengangguran saat ini. Hahaha.
5. Apa ya? (Mbuh ngeheng hahaha)

Ya begitu deh, menghitung hari. 

Agak nekat dengan keputusan melahirkan di Jakarta. Ada sih saudara, tapi jauh-jauh juga rumahnya. Sementara ortu dan mertua kayaknya lebih suka aku lahiran di Surabaya saja. Tapi, kalau lahiran di Surabaya itu artinya bakal tahun depan ke Jakartanya. Sudah gitu suami juga akan susah untuk PP Jkt-Sby. Itu artinya, misah lagi, misah lagi. Hiks.

Cerita temanku Ica yang melahirkan di Jakarta hanya didampingi suaminya saja semakin menguatkan tekad untuk berani. Menurut Ica, dia jauh lebih mandiri, karena saat itu ortunya dan mertuanya tidak bisa mendampinginya saat lahiran dan baru datang beberapa waktu sesudahnya. Ica menjadi Ibu baru yang awalnya nol nggak tahu apa-apa menjadi cekatan mengurusi anaknya sendiri. Yah, kalau Ica bisa, aku yakinnya juga bisa. Moga-moga ya… 

Baby Maxy 16 Weeks

Alhamdulillah Maxy sudah menginjak trimester kedua. Setelah sehari sebelumnya gagal kontrol ke dokter kandungan (saking penuhnya pasien -_-“), semalam akhirnya bisa ketemu Maxy.


Dokter menunjukkan dua tangan, dua kaki, otak, kepala, jantung, serta memperdengarkan denyutnya. Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Soalnya, sempat khawatir karena beberapa minggu terakhir ini Maxy sering kubawa riwa-riwi ke kampus. Naik-naik bemo yang keguncang-guncang, naik turun tangga, jalan dari satu fakultas ke fakultas lain dan lumayan bikin setres. Alhamdulillah hasilnya bagus. Keluhan hampir nggak ada, kecuali aku yang kelihatan masih kurus. Tapi, alhamdulillah BB sudah nambah 1,5 kg.

Oh iya, semalam dokter bilang: “Sementara ini kayaknya cowok, keliatan mentulnya dikit.” (Hihihi). Posisi Maxy semalam menghadap ke perut, jadi saat di-USG seperti orang yang sadar kamera gitu. Sebelumnya aku sudah bilang ke Maxy, supaya dia jangan malu-malu mekangkang, soalnya bundanya ini pengen tahu jenis kelaminnya, penasaran hehe.


Sejauh ini, alhamdulillah semua bagus. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Alhamdulillah tok pokoke wes untuk hadiah ultahku yang paling indah dari Tuhan ini .
PS: Kalau menurut USG usianya 17W4D, kalau hitungan pakai HPHT 16W3D, beda seminggu 🙂

Antara Demo dan Bemo

Kemarin, pulang dari makan-makan setelah sidang sekitar pukul lima sore lebih. Lalu, aku pulang sama seorang tetangga yang menemaniku sidang naik angkot atau kalau di Surabaya kami menyebutnya “Bemo”. 


Dapat info dari jejaring sosial kalau di Jl. Ahmad Yani depan Polda macet karena ada demo. Otomatis perjalanan pulang kami kena imbasnya, terutama saat mendekati daerah Wonokromo.

Perjalanan rasanya lambat sekali, apalagi saat di jalan sudah adzan Maghrib. Sesampainya di daerah Karah yang sebenarnya sangat dekat sekali dengan rumahku kami benar-benar terjebak macet. Penyebabnya semua yang lewat Jl. Ahmad Yani dialihkan lewat jalur dalam di sepanjang Gayungsari-Kebonsari-Jambangan-Karah. 

Jam di tangan sudah menunjuk pukul setengah tujuh dan aku belum sholat. Ketika macet di daerah Jambangan akhirnya kami putuskan turun, kebetulan ada masjid.

Setelah sholat Maghrib, nggak sengaja melihat bemo yang kami tumpangi dari balik jendela. Hyaaahh. Ternyata dia hanya maju sedikit saja dan masih di depan masjid. Kalau tadinya sebelum sholat bemo itu masih di sisi kanan masjid, selepas kami sholat dia sudah di kiri masjid. Itu karena macetnya luar biasa parah, sampai kendaraan tidak bisa bergerak, kecuali motor tentu saja.


Bercanda sama temanku, apa kami naik bemo itu lagi aja ya, untuk pulang ke rumah? Tapi, temanku lebih memilih jalan kaki, karena memang rumah kami sudah dekat. Jalan kaki sekitar 15-20 menit mungkin sampai. Karena aku nggak kuat jalan kaki, selain karena capek banget dan membawa ransel isi leptop dan macam-macam nggak jelas, aku memilih telepon orang rumah untuk dijemput saja dengan motor.

Akhirnya, baru sampai rumah setengah delapanan. Owalah demo-demooo, malah nyusahin, hiks.

Setelah Hampir 3 Tahun, Alhamdulillah :)

Alhamdulillah, setelah hampir tiga tahun akhirnya bisa lulus dari bangku kuliah. Yah, meski masih ada revisi ini itu, tapi setidaknya sudah berkurang satu beban. Terutama beban moral kepada orang tua yang selama ini membiayaiku kuliah.
Aku masuk kuliah pertengahan tahun 2009, seharusnya lulus akhir 2010 atau pertengahan 2011. Tahun ini menginjak semester keenam aku kuliah, tapi sebelumnya sudah mengurus surat pembebasan membayar SPP, jadi untuk semester enam ini aku dibebaskan dari tanggungan SPP. Syaratnya, aku harus lulus sebelum tanggal 31 Maret 2012.
Sempat ribet karena per-tanggal 1 Maret 2012, jurusanku tidak lagi dikelola oleh FISIP melainkan oleh Fakultas Pascasarjana. Selama ini di FISIP segala sesuatunya sangat mudah diurus karena adminnya sangat bisa dihandalkan dan membantu kami, mahasiswa. Selain itu tidak ada peraturan lulus TOEFL terlebih dahulu sebelum sidang Tesis.
Sedangkan di Pasca, mahasiswa harus aktif bolak-balik ke kampus. Fyuuuh, rasanya berat. Apalagi dalam kondisi berbadan dua begini. Nggak ada yang mengantar dan naik angkot harus oper 5-6 kali pulang-pergi. Sebetulnya sejak seminggu dari jadwalku sidang, dosenku sudah menyetujui semua berkasku. Tapi, karena aturan di Pasca harus lulus TOEFL minimal 500 maka aku terancam gagal ikut sidang. Bayangkan itu terjadi pada H-3 detlen pembayaran. Selain itu, H-1 sidang, aku masih belum dapat ruang. Hiks. Sehingga H-1 itu aku masih mondar-mandir ke kampus mengurus administrasi.
Untuk urusan TOEFL, alhamdulillah, aku dan seorang lagi kawan angkatan 2008 diberi dispensasi untuk mengikuti tes TOEFL setelah sidang. Pertimbangannya karena kami memang masih dalam masa peralihan. Jika tidak ikut TOEFL, ijazah kami ditahan . Yah, sudahlah, diijinkan ikut sidang saja udah untung kok.
Akhirnya, 30 Maret 2012 kemarin pukul dua sampai empat sore aku menjadi mahasiswa terakhir yang sidang untuk periode peralihan tersebut. 
Sidang berjalan begitu cepat rasanya. Saat diumumkan hasilnya, alhamdulillah meski mepet aku masih bisa dapat “A”. Padahal tujuanku sidang untuk lulus, sudah tidak berharap tentang nilai lagi. Fyuuuhhh. Selesai sudah. Alhamdulillah.
Setelah selesai semua, aku jalan ke warung depan kampus, mencari Bebek Goreng Sambel Ijo. Nggak pa pa kan, menghadiahi diri sendiri? Hehe…
Terima kasih ya teman-teman semua atas doanya. Luv u all .

Mohon Doa Ya! :D

Teman-teman, mungkin akhir-akhir ini aku cuma buka MP sebentar-sebentar. Aku sedang menanti keputusan apakah bisa sidang/ ujian minggu ini apa nggak.


Tadi sih sudah ke kampus, sudah mengurus berkas-berkas persyaratan sidang. Juga sudah mendapat tanda tangan dosen. Tinggal menunggu jadwal sidang. Lagi deg-deg’an nih, karena kalau nggak sidang maksimal tanggal 31 Maret, nanti aku disuruh bayar SPP lagi. Hiks. Padahal mending duitnya buat lahiran Maxy yah? Hehe.

Mohon doanya juga supaya Baby Maxy yang masih ngendon di perutku ini sehat. Maklum, sering kuajak jalan, naik-naik tangga, bahkan akhir-akhir ini kehujanan. Huhuhuhu.

Mohon doanya ya teman-teman, semoga urusan sidangku lancar minggu ini. Bisa lulus dan lolos dari penguji dengan mudah tanpa hambatan yang berarti, serta bisa keluar ruangan ujian dengan selamat .

Selanjutnya, setelah lulus tentu saja pulang ke rumah (suamiku), ke Jakarta. Mudah-mudahan bisa kopdaran juga sama MPers penghuni ibu kota. Melahirkan Maxy di sana dengan tenang dan bahagia. Aamiin. 

Sekali lagi mohon doa yaaaa, makasiiiihh… .

Hutang

Hmmm, ada sebagian orang yang dengan mudahnya berhutang. Lebih parah lagi kalau hutangnya itu bukan untuk suatu hal yang urgent.


Malam ini di rumah ada tamu berkunjung ke rumah bertemu ortu. Tujuannya: ngutang. Bukan karena ortu banyak duit, ortuku cuma orang-orang biasa yang terbiasa hidup sederhana demi memfasilitasi anak-anaknya sekolah setinggi mungkin.

Aku sendiri heran, beberapa kali ada orang yang berhutang. Kalau pengembaliannya nggak mbulet sih nggak masalah. Tapi kok ya lebih sering mereka yang berhutang sering pura-pura lupa. Kasian ortuku. Lha, apa orang-orang itu pikir duit jatuhnya dari langit?

Lebih parah lagi kalau ada saudara yang meminjam, lebih sering ortu mengikhlaskan saja ketimbang persaudaraan rusak. Hiks.

Belum lagi rumahku sering menerima telepon dari penagih kartu kredit. Beberapa saudara memberikan nomer telepon rumahku untuk diinterogasi, “Apakah Si X saudara Anda?” dsb. Pernah juga ada yang menyuruh kami mendatangi rumah saudara untuk mengingatkan tagihan kartu kredit atau utangnya di bank.

Pernah juga ada petugas bank yang saking jengkelnya membentak ibuku di telepon. Langsung kuambil alih gagang teleponnya lalu kubentak ganti. “Mbak/ Mas punya data alamat rumahnya kan? Ya sudah datangi saja!” 

Hiiih, malese! Yang ngutang siapa, kok kami mesti ikut-ikutan terlibat? Males banget. 

Padahal setahuku saudara-saudara yang berhutang itu rumahnya mentereng, kendaraannya bagus-bagus. Beberapa juga sukanya ngemall. Bandingkan dengan rumahku yang mungil, mobil juga dari dulu mobil tua, bahkan kursi ruang tamuku itu aja nggak pernah ganti sejak aku masih berusia 3 tahunan.

Kenapa sih, mudah sekali berhutang? Tapi, mesti cepat melupakan kewajibannya. Semoga aku selalu dilindungi Allah dari berhutang. Aamiin.